Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Rabu, 07 September 2011

Kumpulan Cerpen yang Sudah diterbitkan Karya Junita Torro Datu

Memang baik yah Bontang Post…
Udah terbitkan cerpenku yang judulnya “Jesicca Pregnant” (Postingan sebelumnya)
Ternyata masih mau muat cerpenku yang judulnya “Abortion”, cerita bersambung pula…
(apa gak kesenengan nih hati).
Yappp, selain kedua cerpenku menyinggung masalah pendidikan moral yang lagi menghangatnya di kota Bontang… Kedua naskah cerpen tersebut juga saya susun menjadi sebuah cerita singkat yang benar-benar berdasarkan pengalaman beberapa remaja yang saya temui… dan akhirnya secara garis besar tergolong menjadi informasi pendidikan.
Masih nggak nyangka juga, karyaku mau di muat di harian media cetak seperti Koran, padahal tulisan-tulisan tesebut saya tulis di sela-sela waktu senggang saya. Makanya, kan udah saya bilang di postingan saya
“Cara Menulis Cerpen” dan ” Cara Menerbitkan Naskah Cerpen Di media Cetak”, bahwa MENULIS BUKANLAH HAL YANG SULIT. Buktinya coretan-coretan kisah hidup disekitar saya dapat saya jadikan cerpen yang memberikan unsur pelajaran mengenai pendidikan moral seperti maraknya seks bebas di kalangan remaja. GAK ADA HAL YANG SULIT KALO KITA COBA,

Bontang Post
Edisi Kamis, 25 Agustus 2011 dan Jumat, 26 Agustus 2011
Di halaman Pendidikan Bontang Post

Semoga Temen** pengunjung juga menyukainya…



“Abortion”

Karya : Junita Torro Datu’
“Aku harus membunuh janin ini, ya aku harus membunuh janin ini. Ya, Tuhan aku tak mungkin bertahan untuk menanggung kesalahan besar ini sendiri.” tangis Anna dalam pelukkan kekasihnya, Adrian.
Adrian melepaskan pelukkannya dengan perlahan, menatap wajah Anna dan menolak keputusan Anna untuk melenyapkan cabang bayi hasil perbuatan gelap mereka. Anna memberontak karena tak mampu menahan kegelisahaan dan tangisannya.
“Kumohon, jangan lakukan itu Anna.” pinta Adrian. Menguasai sepenuhnya gerakan Anna. “Janin ini tidak bersalah. Aku akan mempertanggungjawabkannya. Dengar, aku akan memperanggungjawabkannya.” tutur Adrian berulang.
“Aku malu dan kau terlalu muda untuk menjadi seorang ayah. Aku tak mau membuat orang tuaku malu. Kakak lelakiku bahkan akan membunuhku jika ia tahu aku seperti ini.” teriak Anna dengan emosi yang memecahkan suasana dikeheningan malam itu.
Adrian memeluk Anna makin erat. Ketakutan dan kegelisahan masih meliputi pikiran Anna. Kesalahan dan kenistaan yang mereka perbuat menyisakan penyesalan. Anna tak siap menjadi ibu untuk cabang bayi yang dikandungnya, usianya masih sangat muda yaitu, 16 tahun. Usia yang sangat rentang untuk jatuh ke dalam pergumulan yang tidak biasa. Selain memiliki seorang ayah yang menjabat sebagai seorang kepala Gubernur Daerah dan memiliki tiga kakak laki-laki, Anna tak mungkin membiarkan perutnya membuncit dan akhirnya menjadi aib bagi orang-orang disekitarnya. Sesuatu yang amat berat dalam hidupnya.
Adrian hanyalah anak dari seorang dokter, meskipun berasal dari keluarga yang cukup terpandang, Adrian tak akan malu bila harus menjadi ayah dari cabang bayi yang kini dikandung oleh gadis yang amat dicintainya. Ia melakukannya, tidak lain agar Anna tetap menjadi miliknya. Tanpa menyadari hal itu itu malah menjadi batu sandungan bagi Anna. Kini ia hanya mampu menyesalinya dan berharap ada jalan keluar yang baik bagi mereka.
Keesokkan paginya, Adrian mendapati Anna tengah terbaring lemah di rumah sakit. Anna tak sadarkan diri, ada bekas ikatan tali yang melingkar di lehernya. Rupanya Anna telah mencoba membunuh diri. Untung saja, Alice membawa Anna ke rumah sakit tepat waktu. Alice mendapati Anna dalam keadaan pingsan dengan posisi tubuh tergantung. Ketakutan Adrian sedikit berkurang saat Alice mengatakan bahwa hanya mereka berdua yang tahu tentang kejadian itu. Mendapati tubuh Anna di kamar Alice sudah sangat mengurangi beban pikiran Adrian. Kalau saja Anna membiarkan nyawanya lenyap di kamarnya sendiri. Kemungkinan besar peristiwa ini sudah menjadi bahan perbincangan publik.
Cabang bayi yang tertidur pulas di kandungan Anna semakin bertumbuh. Kini berumur dua bulan. Semakin hari wajah Anna semakin terlihat pucat. Sebagai kekasih yang satu sekolah dengannya, Adrian tetap berada di sisinya. Memberi pangkuan agar mereka mampu melewati masa-masa sulit ini sampai tiba saatnya. Dimana keluarga mereka akan menangung malu akibat dosa besar yang terlalu dini dilakukan oleh anak-anak mereka.
Anna mengajak Adrian untuk menemuinya di rumah Alice. Sudah sebulan ini Anna tinggal di rumah Alice. Ia beralasan agar lebih mempermudah dirinya dalam menyelesaikan tugas sekolah dengan belajar dari Alice. Lagipula Alice juga merupakan sepupunya. Keluarga Anna mengijinkan saja.
Kali ini ada perbedaan dari raut wajah Anna. Sekarang ia terlihat membaik dan sedikit ceria dari sebelumnya. Ia mengaku pada Adrian dengan bangganya bahwa cabang bayi tersebut sudah menjadi cercahan darah. Ia terpaksa mengugurkannya dengan cara aborsi karena menyiksa batinnya. Bukannya membuat Adrian lega, tetapi jusru membuat Adrian kecewa dan merasa sangat bersalah dari sebelumnya.
Kejadian itu berlalu dan Anna berusaha melupakannya, tetapi tidak bagi Adrian. Rasa bersalah karena kesalahannya pada Anna masih terus terbayang. Dan tentu saja ia selalu memikirkan keadaan cabang bayi yang sudah dilenyapkan oleh Anna.
Hari berlalu begitu cepat. Sesuatu yang buruk mestinya berlalu dengan ingatan yang baik. Namun, ketika ingatan itu berganti menjadi ingatan yang jauh lebih menyulitkan. Penyelesaian adalah langkah yang sedikit lebih sulit, sebelum menemukan kesimpulan. Itulah yang harus dilalui oleh Adrian. Masalahnya dengan Anna belum genap setahun, sekarang ia malah nyaris dituduh oleh Alice. Ia tak mudah mempercayai ucapan Alice.
“Haruskah aku menjelaskannya berulang. Aku juga benar-benar tidak mempercayai hal ini. Tapi, kenyataannya aku melakukan hal itu denganmu. Buat apa aku berbohong. Kumohon, ingatlah kejadian malam itu kembali.” tangis Alice meyakinkan. “Aku lelah menyimpannya sendiri, aku pikir aku mampu memilih aborsi seperti Anna tapi, aku tak sanggup melakukannya. Aku lelah menyembunyikannya darimu karena ini hanya akan menyakiti hati Anna. Kumohon bantulah aku. Ini kesalahanmu juga” ungkap Alice. Membuat Adrian kebinggungan.
Adrian memegang kepalanya sendiri. Saat-saat seperti ini terasa melangkahi akal sehatnya. Ia menghela nafasnya dan tak banyak yang dikatakannya. Alice terus mendesaknya, hingga membuatnya mengingat semua kejadian yang pernah dilakukannya dengan Alice. Ia memang melakukannya namun itu terjadi diluar kesadarannya. Disisi lain, tak mungkin ia sekurangajar itu. Mencintai Alice pun ia tak pernah, apalagi berani melakukan hal sekeji itu lagi. Namun, ingatannya mengingatkan bahwa ia benar melakukannya saat ia kecewa dengan tindakan Anna yang berkaitan dengan aborsi.
Adrian menyimpan masalah itu tanpa sepengetahuan Anna. Bagaikan ditimpa pergumulan yang tiada henti. Ternyata membuatnya menyerah jua. Batas keberaniannya sebagai pria hanya sampai di usia mudanya saja. Ia memlih mengakhiri hidupnya. Semangatnya terkalahkan oleh keputus asaannya. Cara seperti ini, mungkin menyakitkan bagi Anna. Apalagi bila Adrian hidup untuk membenarkan pengakuan Alice, tentu saja dapat membunuh gadis yang dicintanya secara hidup-hidup.
Sebagai seorang gadis, Anna terluka. Bagaimana mungkin ia memendam kenangan buruknya seorang diri.
Bagi Alice cara seperti ini mungkin memberikan gambaran kalau Adrian tidak lain ialah seorang pencundang. Lari dari masalah tanpa jejak tetapi, mata Alice lebih menyiratkan makna bila ia mengenggam rasa bersalah karena kepergian Adrian.
***
Semenjak kepergian Adrian, Alice lebih menghabiskan waktunya dengan terdiam dalam lamunan. Ketenangan jiwanya seakan sirna. Tidak wajar apabila ia harus duduk termenung dengan tubuh tak terurus. Bibirnya harus berusaha mengucapkan sepatah kata demi kata meski terdengar berantakan. Sesekali ia berteriak memanggil nama Adrian dan menangis seperti memohon maaf. Entahlah, keluarganya hanya mampu menaruh harapan semoga ruangan kecil di rumah sakit jiwa itu dapat mengubahnya menjadi lebih baik dan ia mampu melindungi cabang bayi itu. Meski ia tak mau mengatakan pada siapapun ayah dari cabang bayi yang tengah dikandungnya.
Keganjilan dari musibah Alice mengusik pikiran Anna. Rasa penasaran mengenai kehamilan Alice dan kaitannya dengan Adrian nyatanya mengundangnya untuk menjengguk sepupunya itu.
“Adrian mati gara-gara aku. Ia bukan ayah dari anakku.” ungkap Alice perlahan sembari mengeluskan perutnya yang kini menginjak dua bulan. kata-kata Alice terdengar berantakan. “Aku membohonginya karena ia bodoh, aku menjebakknya karena ia bodoh dan ia percaya. Pacarmu memang bodoh, pantas saja ia mati karena kebodohnnya sendiri. Tidak punya pikiran.” gerutu Alice sambil menangis dan tertawa terbahak-bahak.
Anna yang nampak kecewa dengan pernyataan sepupunya berusaha menahan emosinya karena menyadari kondisi fisik dan mental yang diderita sepupunya. ”Lalu?” tanya Anna sembari menempatkan tangannya pada bahu Alice.
“Ia bilang kalau aku jangan beritahu kamu, ia gak mau kamu menanggung penderitan karena ia.” lanjut Alice.
Airmata Anna menetes setitik demi setitik. Akhirnya ia mengetahui alasan kebungkaman dan kepergian Adrian. Sebenarnya ia teramat sangat terpukul sekaligus kecewa dengan kepergian Adrian.
“Jika aku mau mendengarkan Adrian untuk tidak membunuh janin itu. Semua tidak akan seperti ini.” pekiknya dalam hati.
Ternyata Alice memanfaatkan kekecewaan Adrian terhadap Anna saat Anna memilih mengugurkan cabang bayi itu. Kekecewaan Adrian yang mendalam ketika berada di bar bersama Alice, memberikan kesempatan besar bagi Alice untuk menjebaknya. Semuanya itu telah diatur Alice.
“Lalu, siapa sebenarnya yang berani tega berbuat ini padamu?” tanya Anna kasar. Membuat Alice takut.
Alice hanya tertawa lalu menangis. Begitu seterusnya. Ia tak mau menjawab. Anna menunggu jawaban Alice.
“Rama, ya benar Rama. Tapi, jangan beritahu dia. Dia pasti akan membunuh bayi ini. Dia jahat, tapi aku mencintainya.” sentak Alice .
Raut wajah Anna menjadi semakin tak karuan. Ingatannya tentang nama itu membawanya pada sosok pria yang pernah dikenalkan Alice padanya. Alice menambahkan, Rama yang dimaksud tidak lain ialah kakak tiri Adrian. Kepolosan Adrian merupakan keberuntungan kedua bagi Alice untuk memperlancar niat buruknya di bar itu.
Anna berjalan menelusuri koridor rumah sakit bersama Alice. Kepergian Adrian biarlah tengelam bersama kenangan pahit yang mereka pernah lalui bersama. Anna harus siap menghadapi resiko atas aborsi yang dilakukannya. Resiko yang lebih berat dari apa yang dibayangkannya ketika keluarganya tahu bahwa ia pernah hamil dan aborsi.
Sekarang ia ingin memulihkan kembali hari-hari suram yang hinggap didiri sepupunya. Sekalipun ia sangat kecewa terhadap pengkhianatan yang diberikan oleh sepupunya. Bahkan membuat kekasih hatinya pergi akibat sikap jahat sepupunya, ia tidak akan menjadikan hal tersebut sebagai kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Alice. Sebab Anna menyadari perbuatan yang telah dilakukan terhadap cabang bayinya adalah dosa terbesar dalam hidupnya.
“Ya Tuhan. Alice yang jiwa tergoncang, masih memiliki nurani untuk menginjinkan makhluk keci itu hidup. Sedangkan aku, …“ kagum Anna dalam hatinya. “Selumbar kesalahan di mata Alice jauh lebih kecil jika dibandingkan balok di mataku.” guman Anna menangis.

***Di persembahkan untuk seorang kawan, aku juga merasakan kesedihan yang sama denganmu***

With Jesus all Things are POSIBBLE @GBU