Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Rabu, 07 September 2011

Kumpulan Cerpen yang Sudah diterbitkan Karya Junita Torro Datu

Menulis memang mudah, Kita bisa dengan mudahnya menuangkan kata-kata yang tergelintir dikepala kita. kamu dapat menulis segala macam penderitaan hidup yang telah kamu atau orang lain alami. Kamu juga dapat berbagi pengalaman dengan semua orang di dunia. Seseorang dapat melepaskan apa yang ingin ia katakan dengan ukiran tulisan, sehingga tulisan itu dapat dikenang untuk jangka waktu yang lama dan sewaktu-waktu ia dapat melihatnya lagi. Berbeda dengan berpikir, lalu menyampaikannya dengan lisan. Di blog ini saya ingin membagi panduan yang saya ketahui saat saya baru memulai menulis cerpen atau fiksi. Sebenarnya saya bukan ahli atau penulis professional. Saya sepenuhnya bercita-cita ingin menjadi seorang sastrawan dan di blog ini saya ingin saling share untuk membagi pengetahuan yang saya ketahui tentang menulis cerpen, fiksi dan karya sastra lainnya.

Masih ingatkan postingan di atas dengan link CARA MENULIS CERPEN, yang sudah saya bagikan di web blog saya ini… Tips2 tersebut asli merupakan coretan2 saya. Kali ini saya ingin tersenyum puas… Ternyata apa yang sekedar saya tulis, justru membuahkan hasil.

Bontang Post
Edisi Selasa, 23 Agustus 2011 dan Rabu, 24 Agustus 2011
Di halaman Pendidikan Bontang Post

Telah Memuat cerpen saya yang berjudul “Jesicca Pregnant”



Tentu saja saya melihat hasil karya tersebut dengan senyuman, seakan saya baru saja mendapatkan
Satu penghargaan yang sederhana. Apalagi saat Redaksi Bontang Post memuat cerpen saya dengan dua kali edisi (cerita bersambung). Meskipun Bontang Post belum genap setahun dan merupakan cabang dari Koran harian Kaltim Post, namun saya patutnya cukup berbangga dan bersyukur karena masih ada media yang mau mepertimbangakan naskah cerpen saya. Dan ini kali pertamanya cerpen saya di terbitkan, jadi saya ingin membagi kebahagian kecil saya di web blog ini. Semoga Temen** pengunjung juga menyukainya…


“Jesicca Pregnant”

Karya : Junita Torro Datu’

Termenung mengamati bayangan dirinya dalam cermin, tak henti-hentinya dilakukan Jesicca. Sesekali ia mengernyitkan dahinya dan kembali mual. Dampak dari perbuatannya sekarang terlihat sudah, hasil tes hari ini menyatakan ia positif hamil. Aris tergangga memandang kekasihnya. Menyesali yang terjadi.
“Aborsi aja udah,” ujar Aris menghela nafasnya.
Airmata Jesicca merebak dan bergulir di pipinya. “Gampang banget kamu ngomong gitu, aku yang harus nanggung semua ini sendiri. Mana tanggungjawabmu sebagai cowok?”
Untuk siswa SMA seperti mereka, tidak mungkin memilih berhenti sekolah untuk mempertanggngjawabkan kesalahan mereka dengan ikatan pernikahan. Bulan depan mereka akan melaksanakan Ujian Nasional (UN), meskipun Jesicca masih bisa menyembunyikan perutnya yang membuncit. Tetap saja keluarganya harus mengetahui beban yang saat ini dipikulnya. Belum lagi dengan Aris yang bersih kukuh agar Jessica melakukan segala cara agar kehamilannya tidak menjadi masalah besar bagi mereka.
Jabatan sebagai ketua OSIS di sekolahnya dapat memperburuk attitude Aris, kalau saja seisi sekolah mengetahui aib mereka berdua. Begitu juga dengan Jesicca, sebagai siswi yang paling cerdas dan teladan di sekolahnya. Tak mungkin gurunya dan temannya akan memakinya sebagai gadis yang selama ini terkenal sebagai murid terbaik ternyata begitu cerdas menyimpan bangkai. Beasiswa ke universitas untuknya mungkin ikut terancam. Namun bagaimanpun segala sesuatu yang baik di dunia ini takkan pernah berlangsung lama dan tiada satupun manusia di dunia ini yang tidak luput dari dosa dan khilaf.
“Tanggungjawab seperti apa? kita masih sekolah say, masa depan kita masih panjang,” ungkap Aris penuh emosi. Kebinggungan sepenuhnya merasuki pikirannya.
“Seharusnya aku yang bilang gitu. Bokies banget omonganmu waktu itu, ingat kamu yang maksa aku buat ngelakuin itu,” bantah Jesicca. “Kamu pikir aborsi akan merubah segalanya?” bantahnya lagi seolah saling menyalahkan.
“Tanggungjawab nggak harus married’kan? Kalau kamu cerdas, kenapa gak nyadariin aku saat itu? cewek itu yang seharusnya punya kendali untuk hal seperti itu?” Aris kembali menyalahkan. “lagipula kita beda agama, nggak mungkin kita bersatu.” suaranya melemahnya saat berpaling ke arah Jesicca.
Aris berlalu meninggalkan Jesicca sendiri. Jesicca menghapus airmatanya dan berhenti menyalahkan. Menyadari hanya akan membawa masalah baru jika mereka masih saling melempar masalah. Ia harus lebih bijak daripada Aris. Musibah ini bukan kecelakaan seperti yang dikatakan Aris. Anjing yang sekalipun melakukan hubungan seperti itu, apakah bisa di sebut sebagai sebuah kecelakaan? Itu tidak terjadi begitu saja, semua terjadi atas kesadaran mereka masing-masing.
Yang bisa menyelamatkan posisi Jesicca adalah dirinya sendiri. Kalau ia menyembunyikan terlalu lama malah akan menciptakan musibah baru yang dapat membuatnya semakin tertekan. Keluarganya harus tahu, walau harus kecewa dengan gadis yang selama ini dibanggakan. Dipukul pun tak apa baginya, asalkan ia tidak membiarkan dirinya jatuh kedalam lubang yang salah untuk kedua kalinya. Ia bertekad untuk tidak aborsi dan akan menanggung kesalahannya. Segalanya belum berakhir baginya. Harta berharga dari dirinya telah hilang begitu saja, namun ia harus menata kembali masa depannya.
“Gila! Kalau kamu lapor keluargamu. Masalahnya makin rumit, say. Mereka bakal ngelapor ke sekolah dan kita harus get out dar sekolah ini,” ujar Aris saat Jesicca menemuinya latihan.
“Nggak ada jalan lain. Kamu laki-laki, Ris. Aku cuma mau kamu bersikap lebih bijak.” tutur Jesicca berharap. Betapa egonya Aris baginya.
“Aborsinya bisa pakai jamu, minuman bersoda, tape, atau apa kek kalau kamu nggak mau ke dokter aborsi,” balas Aris acuh. “ banyak tuh obat aborsi di internet, cari cara gampang, why not?”
Hati Jessica tersayat pilu. Ingin berteriak dan menampar wajah Aris. Ia berusaha menahan perih dan airmatanya.
“Seandainya kamu ada posisiku, sakit Ris.“ ungkap Jesicca meyakinkan kesedihan yang melekat erat dalam dirinya.
“Kalau aku yang hamil, ya it’s impossible. Kalau pun iya, aborsilah!” seru Aris meninggalkan Jesicca tanpa raut rasa bersalah.
Terisak keras dalam batin. Mengutuki nasibnya. Cinta yang selama ini ia pertahankan meninggalkan seribu sesal. Kata-kata manis yang sering dituangkan Aris untukknya terlanjur membuahkan kebencian. Ia tidak menuntut pernikahan karena ia memikirkan masa depannya. Harapannya agar Aris mau bersama-sama mengakui kesalahan dan kenistaaan mereka di depan keluarga mereka masing-masing sudah cukup mengurangi beban Jesicca. Namun Aris tidak akan mau melakukannya. Bagi Aris, itu bukan solusi tapi sebuah ancaman.
***
Jesicca berjalan menelusuri koridor sekolah yang hampir sepi. Beberapa siswa telah berpulangan, hanya tersisa beberapa guru yang sibuk mengurus rapat UN. Entah apa yang dipikirkannya, ia tetap memandang lurus ke arah Edward yang sedang menantinya.
“Jes, coba lihat ini?” ujar Edward memulai percakapan mereka sembari menyodorkan majalah yang memuat beasiswa untuk perguruan tinggi.
“Oh,” sahut jesicca lemah. Ini bukan sesuatu yang patut didiskusikan karena ia ragu gurunya menolak membantunya mendapatkan beasiswa itu jika nanti mengetahui kehamilannya. “Aku punya masalah, Ward.” lanjutnya. Sorot matanya menerawang menatap Edward. Saat seperti ini, ia butuh pelukkan dan bantuan Edward.
Ia rekuh di pelukkan sahabatnya itu. Edward mengajaknya menceritakan apa yang membuat gadis yang dicintainya menangis terisak. Semoga bukan tentang Aris. Karena sudah banyak keluhan tentang perlakuan Aris. Tapi, kali ini Edward harus menguras otaknya mencari jalan keluar untuk Jesicca.
“Kakak perempuanku juga pernah sepertimu. Ia lebih terpuruk ketimbang kamu. Bahkan kamu lebih tegar dari dia,” ucap Edward menunduk. Bagaimanapun terbukanya Jesicca , Edward juga harus lebih terbuka. Kekecewaan nampak di wajah polos Edward, gadis yang dicintainya diam-diam telah kehilangan keperawanannya oleh lelaki seperti Aris. “kalaupun tanpa Aris, setidaknya kamu berani mengatakannya seorang diri kepada keluargamu. Semuanya akan baik-baik, jika kamu merasa cukup berani.”
Tidak semudah itu Edward. Jesicca sudah lebih dulu memikirkannya bahkan hari-harinya habis untuk memikirkan jalan keluar yang nantinya tidak menyakiti siapapun. Entahlah, nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, bumi harus tetap berputar.
“Ia bunuh diri. Syukurlah ia masih diijinkan untuk hidup dan cabang bayinya masih bisa diselamatkan.” ungkap Edward. Setitik airmata ikut menari di pipinya. Perlahan ia menyembunyikan wajahnya dari tatapan Jesicca
Tangisan Edward bukan karena mengenang masa lalu kakak perempuannya, tetapi menyesai dirinya yang payah. Tak mampu melindungi gadis yang dicintainya selama ini dan ia merasa tidak jauh berbeda dari seorang pecundang, hanya mampu mencintai diam-diam. “Penyakit jantung ayahku kambuh karena peristiwa bunuh diri itu. Ayahku meninggal dan sampai sekarang ibuku tidak mau sedikitpun bertegur sapa dengan kakakku.” terlihat hancurnya keluarga Edward dari penuturannya.
Edward terus bercerita. Setidaknya Jesicca tidak mengambil keputusan yang salah seperti kakak perempuan Edward. Jesicca mengeluskan pundak Edward. Mereka saling membagi duka. Jesicca tergerak untuk mengakuinya meski tanpa Aris. Kekasihnya itu sudah ia hilangkan dari ingatannya. Ia mencoba untuk tidak menitip dendam. Karena sekarang yang ia butuhkan adalah kehidupan yang tenang.
Pikiran Edward melayang ke masa lalu. Ia telat selangkah dari Aris. Laki-laki pemalu seperti dirinya, hanya bisa menjaga dan mengagumi Jesicca. Kini, ia merasa sangat bersalah ketimbang Jesicca. Ia tidak bisa menjaga Jesicca sesempurna yang ia harapkan.
***
Orangtua Jesicca memandang dalam putrinya yang kini sedang berlutut. Pengakuan Jesicca nyatanya menimbulkan kekecewaan untuk orangtuanya. Seperti yang dipikirkan Jesicca. Mereka menangis dan sangat kecewa. Menjaga anak perempuan seperti menjaga singa yang galak.Tidak semudah yang pikirkan selama ini.
Berhari-hari sudah masalah itu dipendam olehnya dan keluarga Jesicca. Demi masa depan Jesicca, keluarganya akan mendatangi keluarga Aris setelah masa UN selesai dilaksanakan. Mereka juga tidak menuntut pernikahan karena mereka menyadari perbedaan keyakinan diantara keduanya. Sangat jelas, bahwa keluarga itu begitu terpukul. Hanya pertanggungjawaban untuk masa depan cabang bayi yang tengah dikandung oleh Jesicca yang diperlukan oleh keluarga Jesicca.
Dunia harus tetap berputar dan Jesicca harus tetap melanjutkan pendidikan, apapun yang terjadi. Kesalahan itu adalah sebuah pelajaran berharga bukan penghalang.
“Bagaimanapun, bayi itu itu juga berasal dari Tuhan.” ucap ibu Jesicca menyadarkan ayah Jesicca. “kita tidak seharusnya terus menyalahkan Jesicca. Dia memang membuat kita sangat kecewa. Tapi keberanian untuk mengakuinya, itu sudah menunjukkan kalau kita tidak boleh dengan gelap mata melihat kesalahannya.”
Ayah Jesicca memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Kemudian menangis di bahu istrinya. Memahami Jesicca sudah bertanggungjawab atas kesalahannya. Putrinya tahu kalau jika ia mengakuinya di depan orangtuanya tentu akan membuat keluarganya shock setengah mati. Keputusan untuk tidak aborsi ataupun bunuh diri nyatanya masih menunjukkan bahwa masalah apapun tidak akan merubah sosok Jesicca, sosok yang masih patut dibanggakan karena tanggungjawabnya.

***Di persembahkan untuk sahabat kecilku, segalanya akan kita mulai kembali***



With Jesus all Things are POSIBBLE @GBU