Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Sabtu, 20 Agustus 2011

INTERMESSO By Junita Torro Datu

“Harapan Kecil Si Penghibur”

Di sinilah berawal saat aku menantinya. Melirik waktu yang tak mau berhenti, sejenak pun tidak. Langkahku berdetak menantinya. Aku tersenyum karena mengenang senyumannya. Terang malam ini mengerogoti kulitku dan sesakkan mengiris mataku.
Aku masih menunggu dan mengitari rumah-rumahan kami. Memandang fotonya dan fotoku. Terpampang bagai permadai malaykat. Tanpa sadar aku telah lama hilang dan tenggelam bersamanya. Namun, sesungguhnya aku tak peduli itu. Cukup bahagia rasanya saat aku melukis kisah kami agar tidak layu dan mati.
Pekat malam kali ini, aku masih mengitari ruas-ruas jalan. Tempat yang pernah kami lalui bersama. Entah mengapa, aku ingin sekali mengitarinya seorang diri dan berharap ia datang. Meski semenit. Jikapun ia datang ia mungkin hanya menyapaku dalam bayangan malam. Oh.. Tuhan kembalikan ia padaku?terlalu cepat ia terpisah dariku.
Jika ia hidup lagi, aku akan menjaganya, melindunginya. Memasakkan ia makanan dan menyuapinnya. Tapi, aku hanya seorang remaja dan ia hanya lelaki yang pernah mencintaiku. Entah mengapa pikiran-pikiran itu terlintas di otakku. Apakah aku mencintai orang mati? Mengapa tidak sedari kemarin sewaktu ia masih berteman dengan nafas? Why, why, why…
Tangisan ini percuma. Ini sederet pengalaman yang sama sekali tidak aku mengerti. Alur yang bagiku terbalik dari harapan, mimpi, dan angan-anganku. Berjalan tanpa arah. Menatap gelandangan yang tertawa seakan dapat mengeringkan airmataku.
“Mama, aku lapar. Papa aku ingin pulang bersamamu dan merasakan hangatnya perlindunganmu. Kakak, aku ingin berjalan di belakangmu. Adik, berikan aku permenmu…” nyanyian ini terus terucap di bibirku yang pucat.
Dimana aku? Kenapa aku tidak berhenti bertanya?... aku ingin akhir dari kisah kehidupanku tanpa mengenal kematian. Sebetulnya, aku benci kematian. Tidak akan ada yang menangisiku jika aku meninggalkan ragaku. TAK SEORANGPUN. Aku hanya bangkai bagi mereka. Mati dan membusuk tiga hari, lalu terkubur tertutup langit.
Kemarin, tujuh belas tahun sebelum hari ini… Tiba-tiba aku merindukan kelahiranku. Pasti banyak orang yang menanti kelahiranku. Ada paman, bibi, dan mungkin orang-orang datang berbondong menanti tagisanku. Lalu sekarang, mendengar tangisanku pun mungkin mereka akan menutup telinga. Apalagi jika aku mati nanti, kurasa semua akan tersenyum bahagia seperti saat mereka tersenyum bahagia menunggu kelahiranku.
Alasan, aku harus mencari alasan atas keadaanku sekarang. Aku tak ingin menghujat Sang Pencipta. Mungkinkah takdirku, tapi takdir asalnya dari-Nya. Oh… tidakkkkkk !!!
Aku bodoh. Ini salahku juga sebuah dosa. Aku meninggalkan-Nya, aku mengacuhkan-Nya ketika Ia memberikan sinar wajah-Nya untuk menerangi jalanku. Pilihanku telah membutakan impianku yang hampir sirna dan kini tidak ada lagi yang bisa kupegang.
“Dasar sundal, murahan, pelacur ,******…!!! “ aku ingin menyumbat mulut perempuan-perempuan itu. Tapi, ucapan mereka benar adanya.
Aku rusak dan tak ada nilainya lagi. Kecantikanku menghancurkanku dan menikam akal sehatku.
Semua pahit. Kenangan masa kecilku itu tidak ada gunanya terlintas.

Jika aku tak layak menginjakkan kaki di Kerajaan Allah, mungkin aku layak menciptakan surga di dunia ini, surga yang hanya untukku seorang dan bayangan kekasihku. Terdiam dan mengurung tubuhku dalam sisa-sisa nafasku sambil berharap ada seorang malaykat datang menjemputku dan mengulurkan tangannya. Membawaku untuk bedoa bersama tanpa mengumbar kata-kata hujat atas kesalahanku di masa kemarin? Adakah itu, sekalipun malaykat itu serupa denganku?***create by Junita Torro Datu’