Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Rabu, 18 Mei 2011

Menulis tulisan di blog memang merupakan hal yang mudah , namun tergolong cukup meyita waktu. Kita membutuhkan waktu senggang untuk berpikir dan menghubungkan ide pemikiran dengan karya imajinasi menjadi sebuah informasi penting Mungkin kamu punya alasan tersendiri membuat blog, tapi biasanya alasan kebanyakan orang bisa ditebak.
1. Sekedar Curhat, menceritakan pengalaman, sekaligus menambah pengalaman.

Di blog kamu, kamu dapat menulis segala macam penderitaan hidup yang telah kamu atau orang lain alami. Kamu juga dapat berbagi pengalaman dengan semua orang di dunia (kalau orang itu bisa bahasamu!). Seringkali juga, pembaca blog kamu bisa memberikan masukan-masukan buat masalah atau pengalaman kamu, sehingga pengetahuanmu bertambah dan perasaanmu lebih enak.
2. Masalah reputasi!
Punya blog yang bagus dengan isi yang baik bisa mengubah cara pandang orang terhadap jati dirimu (semoga blog ini tergolong bagus ^_^). Kalau blog kamu saja bagus, gimana kamunya sendiri tidak bagus? Kamu bisa membeberkan segala macam kemampuanmu yang terpendam di blog kamu. Beberapa perusahaan besar juga sudah mulai membuat blog sebagai salah satu sarana CRM (hubungan masyarakat), sebab dengan mengakses blog perusahaan, pelanggan dapat berinteraksi dengan perusahaan.
3. Belajar.
Dengan memiliki blog maka kita belajar menulis (mengarang) dan mengeluarkan pendapat. Kalau blog kamu ada dalam bahasa asing, kamu juga dapat sekaligus belajar bahasa tersebut.
4. Nyari teman.
Membuat blog itu mirip-mirip dengan chatting atau mengikuti social networking site kayak Friendster ,Facebook yang sekarang lagi meledak. Kamu bisa mendapat teman dan kenalan baru!. Lumanyan buat saling tukar info (bukan tukar info nomor HP atau Pin BBM loh)

Perhatikan contoh berikut !

Makam Seorang Pejuang
Oleh : H. Didin D. Basoeni

PERINGATAN Hari Kemerdekaan 17 Agustus, baru saja usai. Gapura yang dihiasi bendera dan umbul-umbul merah putih, di setiap RT, RW, di halaman kantor desa, kecamatan dengan biaya gotong royong, sudah bersih kembali seperti keadaan semula. Bunga-bunga yang ditaburkan di Taman Makam Pahlawan sudah banyak yang mengering. Bahkan hilang lenyap tersapu angin. Tapi di sebuah permakaman umum di Desa Cimariuk, Bandung Selatan, ada sebuah makam yang masih dihiasi bendera merah putih dan bekas tabur bunga melati yang masih segar.
Warga Desa Cimariuk umumnya sudah tahu, yang menabur bunga di makam Suyud adalah seorang wanita bernama Nuresna dan anak laki-lakinya yang bernama Dirman. Setiap tanggal 17 Agustus, Nuresna dan Dirman yang sekarang sudah tinggal di Kota Bandung, biasa menabur bunga dan menancapkan bendera merah putih di makam Suyud. Di mata Nuresna dan Dirman, Suyud adalah seorang pejuang kemerdekaan yang rela mengorbankan harta, keluarga, dan, bahkan, nyawanya.
**
SAAT merebut dan mempertahankan kemerdekaan, para pejuang di Desa Cimariuk Kec. Ciparay Kab. Bandung, dengan senjata seadanya, dengan caranya masing-masing, berjuang melawan tentara penjajah Belanda. Tak sedikit pula yang ikut berjuang bersama organisasi ketentaraan resmi. Di antaranya pemuda bernama Suyud. Suyud waktu itu baru sekitar tiga bulan mempersunting mojang Desa Cimariuk bernama Nuresna.
Suatu malam terjadi pertempuran antara para pejuang dengan tentara Belanda di Kota Dayeuhkolot. Pertempuran itu, menurut sejarah, terbilang cukup seru. Gudang mesiu tentara Belanda di Dayeuhkolot berhasil dimusnahkan oleh orang yang bernama Moh. Toha dan Moh. Ramdan. Keberanian dan keuletan para pejuang Bandung Selatan di dalam membela kemerdekaan itu sempat diabadikan oleh komponis terkenal Indonesia bernama Ismail Marzuki. Terinsipirasi peristiwa itu, Ismail Marzuki menciptakan sebuah lagu “Bandung Selatan di Waktu Malam”. Lagu yang terus menggema sampai sekarang.
Pertempuran besar di Dayeuhkolot itu menimbulkan banyak korban, baik di pihak tentara Belanda, maupun di antara para pejuang kemerdekaan. Suyud, suami Nuresna yang sedang hamil dua bulan, dikabarkan tewas dalam pertempuran itu. Namun kematian Suyud waktu itu, masih diragukan, karena mayatnya tidak ditemukan. Beberapa pejuang yang selamat menyatakan, ketika pertempuran berlangsung, ada seorang remaja yang mati dan luka berat dan sulit diketahui wajahnya. Karena situasi dan kondisinya, mayat laki-laki remaja itu langsung dimakamkan di pemakaman umum Desa Cimariuk. Usai pertempuran, barulah diketahui ada seorang pejuang yang “hilang” yang bernama Suyud. Cerita pun disambungkan. Dengan segera orang berkesimpulan, mayat laki-laki remaja yang dimakamkan di pemakaman umum Desa Cimariuk itu adalah Suyud.
Berita menghilangnya Suyud, akhirnya sampai juga ke telinga Nuresna. Setelah mendengar keterangan ini-itu, Nuresna dan keluarganya akhirnya sepakat juga bahwa Suyud telah meninggal sebagai seorang pejuang. Mereka yakin, makam yang ada di Desa Cimariuk itu adalah mayat Suyud.
**
SEPERTI biasa, setiap pagi sekitar pukul 10.00 WIB, setiap tanggal 17 Agustus, sebuah pemakaman umum di Desa Cimariuk diziarahi oleh seorang wanita bersama seorang anak laki-laki. Wanita muda itu bernama Nuresna. Sedangkan anaknya Dirman. Pada tanggal itu setiap tahunnya, ibu dan anak itu akan menabur bunga dan menancapkan bendera merah putih di atas makam Suyud. Nuresna bersama anaknya kemudian mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
“Semoga Kang Suyud diterima di sisi-Nya. Kami rela ditinggalkan oleh Kang Suyud, karena Akang telah berjuang untuk bangsa dan negara,” kata Nuresna, khusyuk.
“Pak, ini Dirman, anak Bapak. Semoga jiwa juang Bapak, tertanam di hati Dirman. Aaamiin,” timpal Dirman, tak kalah khusyuknya.
Nuresna dan Dirman tidak tahu bahwa setiap kali mereka melakukan tabur bunga di makam Suyud ada seseorang yang memerhatikan mereka dari jauh. Orang ini bersembunyi di balik sebuah batu besar yang sekelilingnya rimbun oleh berbagai pepohonan. Kondisi lelaki yang selalu datang memerhatikan Nuresna dan Dirman ini sudah tidak utuh. Wajah dan tubuhnya cacat. Kaki kanannya buntung, sedangkan kaki kirinya tidak bisa digunakan untuk berdiri tegak. Demikian pula keadaan tangan kirinya yang tidak bisa digerakkan lagi dengan sempurna. Lelaki ini baru bisa berjalan bila didukung dengan dua buah tongkat yang diletakkan di sela-sela kedua tangannya.
Selesai menaburkan bunga dan berdoa, Nuresna dan Dirman akan meninggalkan makam. Beberapa jam kemudian, barulah lelaki cacat itu pergi pula meninggalkan makam dengan cara diam-diam. Sepertinya, dia takut sekali bertemu dengan Nuresna dan Dirman.
**
SUATU hari, warga Desa Cimariuk dikejutkan informasi telah ditemukannya mayat seorang lelaki yang terapung di sebuah kali. Kondisi mayat sangat mengenaskan. Mayat itu telah membusuk, sehingga sulit dikenali wajahnya. Tak jauh dari mayat, ditemukan dua tongkat penyangga tubuh.
Kepala Desa Cimariuk mengumumkan kepada seluruh warganya, kalau-kalau ada orang yang merasa kehilangan keluarganya yang keadaan tubuhnya cacat dan ditemukan meninggal di sebuah kali. Tetapi tak seorang pun warga Desa Cimariuk yang merasa telah kehilangan anggota keluarganya. Akhirnya, mayat lelaki cacat itu dimakamkan di permakaman umum Desa Cimariuk yang letaknya tidak jauh dari makam Suyud.
**
HINGGA saat ini, tak ada yang tahu bahwa mayat yang menghebohkan yang ditemukan di pinggir sungai itu adalah mayat Suyud yang sebenarnya.
Ketika terjadi pertempuran di Dayeuhkolot, Suyud terkena letusan mortir. Akibatnya, kaki kanannya hancur, kaki kiri, tangan kiri, dan mukanya luka berat. Suyud yang luka berat itu, terapung di sungai Citarum dan terbawa arus hingga beberapa kilometer. Suyud yang luka berat itu, terdampar di sebuah batu dan ditemukan oleh seorang petani di Soreang. Tuhan Mahabesar, ternyata Suyud yang tengah luka berat itu, nyawanya masih bisa diselamatkan.
Setelah sembuh, Suyud tahu bahwa istrinya, Nuresna, sudah melahirkan seorang anak laki-laki buah dari perkawinannya. Tapi ia sadar, dengan wajah dan anggota tubuh lainnya yang cacat, ia tak pantas lagi untuk mendampingi Nuresna. Apalagi ia mendengar kabar bahwa dirinya sudah disangka mati dan dimakamkan di permakaman umum Desa Cimariuk sebagai pejuang kemerdekaan.
Karena itu, Suyud tak pernah kembali dan menjelaskan keberadaannya kepada siapa pun. Namun, kerinduannya kepada anggota keluarganya membuat Suyud selalu berusaha pada setiap tanggal 17 Agustus datang ke permakaman umum Desa Cimariuk. Setahun sekali, Suyud ingin melihat istri dan anaknya tercinta, Nuresna dan Dirman, bahagia.***
Bale Endah, 17 Agustus 2005

(dari : Pikiran Rakyat, 23 September 2006)

Tidak ada kesan istimewa pada cerita pendek di atas. Jika kita baca sepintas, cerita pendek itu justru sangat sederhana. Gaya bahasanya, penceritaannya, hanya memperlihatkan gaya bahasa yang yang cukup ringan, tanpa harus bersusah payah mengartikan kata dan untaian kata yang mendalam. Isinya pun hanya sebuah narasi dari cerita sejarah yang berkaitan dengan nasib seorang pejuang.

Sekalipun demikian, bukan berarti mudah untuk dicerna lebih dalam. Tugas kita adalah menyimpulkan siapa sebenarnya tokoh utamanya? Apakah Nursena, istri Suyud yangn dinyatakan gugur pada perjuangan? Ataukah Suyud yang dianggap gugur pada perjuangan? Atau mungkin seorang lelaki yang selalu memerhatikan Nursena dan Dirman ketika mereka tabur bunga dan berdoa di makam?
Begitu pula alur peristiwanya. Apakah peristiwa yang dilakukan Nursena dan Dirman ketika pada setiap 17 Agustus datang ke makam tersbut? Atau peristiwa pertempuran, yang kemudian menewaskan seseorang yang tak dikenal, yang kemudian dianggap Suyud, suami Nursena?
Lalu apa konfliknya? Cari dan temukanlah, karena pada cerpen tersebut ada tiga bagian yang masing-masing punya perbedaan peristiwa.

Nah, bagi Anda yang punya pengalaman menarik, coba buat cerpennya, selamat mencoba!!!

*Junita Torro Datu*