Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Sabtu, 07 Mei 2011

HARDGROVE GRINDABILITY INDEX (HGI) di Preparasi (Posting original create from Junita Torro Datu’)



A. Pengertian HARDGROVE GRINDABILITY INDEX (HGI)
HGI merupakan salah satu sifat fisik dari batubara yang menyatakan kemudahan batubara untuk di pulverise sampai ukuran 200 mesh atau 75 micron.
Cara pengujian HGI ialah dengan menggunakan mesin Wallace Hardgrove .Sampel batubara yang sudah digerus pada ukuran partikel tertentu akan dimasukan kedalam mesin Wallace Hardgrove. Selanjutnya digerus dengan menggunakan bola baja pada putaran (revolusi) tertentu.

B. Acuan Standar dalam HARDGROVE GRINDABILITY INDEX (HGI)

HGI mengunakan Acuan Standar sesuai ISO 5074 : 1994 dan ASTM D409-08. ISO merupakan International Standard, yaitu standar yang diproduksi oleh BSI Group yang didirikan di bawah Royal Charte dan yang secara resmi ditunjuk sebagai Badan Standar Nasional (NSB) untuk negara Inggris dan merupakan standar konsensus formal. Salah satu tujuan BSI, yaitu mengatur standar mutu barang dan jasa, mempersiapkan dan mempromosikan adopsi umum Inggris Standar, dan mengubah standar tersebut sebagai pengalaman dan kondisi yang membutuhkan. Sedangkan ASTM merupakan American Standard for Testing American, yaitu suatu Standarisasi Internasional yang dapat meningkatkan kualitas produk pengujian karena ASTM telah memberikan metode pengujian, spesifikasi, panduan dan praktek-praktek yang mendukung industri.

C. Prinsip HARDGROVE GRINDABILITY INDEX (HGI)
Metode ini digunakan untuk menentukan nilai Grindability Index (HGI) batubara dengan menggunakan mesin Wallace Hardgrove atau menguji kekerasan batubara. Sampel batubara yang telah dipreparasi dengan distribusi ukuran khusus, dipaparkan pada kondisi tertentu. Grindability Index dihitung dari hasil analisa ayakan terhadap hasil pemaparan yang kemudian dibandingkan dengan data kalibrasi dari satu set sampel acuan yang telah disertifikasi.

D. Cara Menganalisa HARDGROVE GRINDABILITY INDEX (HGI)

1. Gunakan Lembar Kerja FML yang telah disediakan.

2. Sekurang-kurangnya 1,2 kg sampel batubara dengan Ukuran Terbesar 4,75 mm dikeringkan (air dried) hingga massanya konstan, sebagaimana prosedur Air Drying dan catat % kering yang hilang (Air Dry Loss).

3. Pilah sampel yang telah Air Dry, sehingga didapat sebanyak 1.0 ± 0.1 kg, kemudian catat massanya.

4. Ukur sampel pada ukuran 1.18 dan 0.6 mm kedalam porsi 200 g, gunakan penggoyang ayakan Rotap sebanyak dua periode. Timbang dan catat masa dari fraksi +1.18.-1.18+0.6 dan -0.6 mm.

5. Bersihkan penggiling HGI (Coffe Mill) dan setel pada penyetel 7.

6. Masukkan fraksi +1.18 mm ke dalam penggiling HGI (Coffe Mill) sehingga laju pengisian kurang lebih sama dengan laju pengeluaran.

7. Ukur sampel yang telah dihancurkan pada 1.18 dan 0.6 mm. Gabungkan fraksi -1.18+0.6 dan -0.6 mm dengan fraksi repektif dari langkah 3.

8. Ulangi langkah 7 dan 8 pada penyetelan “5” dan “3”.

9. Jika terdapat sisa materi sample +1.18 mm, maka geruslah menggunakan mortar dan tumpukkan hingga dapat lolos 1.18 mm.

10. Timbang dan catat masa dari fraksi -1.18+0.6 dan 0.6 mm. Hitung persentase +0.6 mm, jika kurang dari 50%, maka informasikan kepada Supervisor Laboratorium.

11. Pilah fraksi -1.18+0.6 mm untuk mendapatkan Sub-Sampel sebanyak 120 gr.

12. Hilangkan debu Sub-Sampel pada 0.6 mm selama 5 menit ± 1 detik, menggunakan Pengoyang ayakan Ro-Tap dan pengatur waktu.

13. Hilangkan debu Sub-Sampel pada 0.6 mm selama 5 menit ± 1 detik, menggunakan Pengoyang ayakan Ro-Tap dan pengatur waktu.
Timbang fraksi ±0.6 mm dan -0.6 mm, dan catat massa-nya. Buang fraksi -0.6 mm. Pilih fraksi +0.6 mm menjadi sampel Pengujian dengan berat masing-masing 50 g. Catat massa sampel (M1).*Junita Torro Datu’-Geologi Pertambangan-SMKN 3 Bontang*