Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Selasa, 05 April 2011

Music Is My Life




Music is my life! Ungkapan kata yang tak asing terdengar. Musik sudah merasuki kehidupanku sejak usiaku menginjak lima tahun. Saat itu jemari tanganku mampu memainkan senar-senar gitar dengan lincah.

Berawal, ketika aku meminta gerombolan pengamen untuk mengajariku bermain gitar. Sedikit demi sedikit aku mampu memainkannya. Hingga sekarang aku telah bergabung dalam sebuah band. Sebanding dengan usiaku yang kini menginjak tujuh belas tahun.

Nama band kami adalah The Xilent. Band lokal yang cukup terkenal di kotaku. Terdiri dari Jonathan pada vocal, John pada keyboard, Frans pada drum, dan aku pada gitar. Kami berempat begitu kompak dan teramat sangat mencintai musik. Hingga aku melupakan Magdalene, gadis cantik yang juga keturunan Perancis.

Dulu, aku sangat mencintainya, namun rasa itu mulai pudar karena rasa sayang, cinta, dan perhatianku padanya telah tergantikan oleh musik. Aku tidak terlalu menyadari hal itu. Bagiku,musik adalah kehidupanku yang nyata.

Dengan musik aku mampu menghasilkan materi. Manggung di berbagai festival adalah salah satu rutinitas yang tak boleh terlewatkan. Hal itu yang membuatku lebih menekuni musik.

Hubunganku dengan Magdalene menjadi gantung semenjak aku menjadikan musik sebagai nomor satu dalam hidupku. Ia gadis yang sabar dan paham tentangku.

Saat aku hendak mengunjungi James, sepupukuku yang terbaring di rumah sakit. Tanpa sengaja aku dikejutkan oleh sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Aku melihat Magdalene. Duduk termenung dikursi roda yang ditemani oleh seorang perawat.

“Magdalene…!” panggilku padanya. Kulangkahkan kakiku bersama rasa yang tak menentu. Ragu sempat hinggap di pikiranku.
“Moses…!” kejutnya padaku dengan suara yang terdengar parau.

Kuhampiri ia dan kuraih tangannya yang lembut, ”Sayang, inikah engkau?” tanyaku manja dengan beribu rasa sesal.

Ia memberontak. Melepaskan genggamanku. ”Aku memang Magdalene yang pernah kau cintai dan telah kau tinggalkan. Aku membutuhkan ragamu tapi ingin itu kau tenggelamkan.” pekiknya dengan senyuman yang terlihat tegar.

Aku terdiam seribu bahasa. Tiada kata yang mampu kututurkan selain sesal tiada arti.

Belum sempat aku memohon maaf padanya. Seorang pria datang menjemputnya dan membawanya pergi dariku.

Aku tak berhenti sampai disini. Aku terus mencari tahu apa yang telah menimpa kekasihku itu. Akhirnya kumenemukan jawaban itu dari nyonya Anne, ketua panti asuhan tempat Magdalene dibesarkan.

Nyonya Anne mengatakan, empat bulan yang lalu. Ketika Magdalene ingin menemuiku di Festival musik. Tanpa sengaja sebuah bus melintas dan menabrak tubuh Magdalene. Entah bagaimana peristiwa itu terjadi. Namun ,yang pasti Magdalene hanya ingin menyampaikan pernyataan padaku. Bahwa ia akan bertunangan dengan seorang dokter.

Aku sungguh terkejut ketika nyonya Anne berkata bahwa Magdalene sudah menikah dengan seorang dokter yang berusia tiga puluh lima tahun.Pantaskah serorang dokter yang berusia tiga puluh lima tahun, menikah dengan Magdalene yang usianya baru menginjak enam belas tahun? Mungkin ini balasan untukku karena telah mengabaikan Magdalene.

Aku berusaha menemui Magdalene dan memohon penjelasan darinya. Meski sulit. Aku terus mendesaknya walau harus merendahkan di hadapannya.

“Aku seperti tak punya masa depan. Sejak kecil,aku hanya terbiasa dengan takdir. Hanya dokter Andeson yang mau menerima kondisiku. Aku tak pernah luput dari cintanya. Meski sulit mencintainya. Aku akan mencoba!” jelas Magdalene panjang lebar.

Tak berdaya diriku. Semua terjadi dan berawal dari keegoisanku. Aku seakan tersadar dari mimpi yang panjang. Ingin kuulang semua kisah itu bersamanya dan menjadikannya nomor satu. Namun, kesempatan kedua tak berpihak padaku.

Diriku memang telah kehilangan dirinya. Kenyataan itu memang harus kuterima. Tapi tak mungkin bagiku untuk menyalahkan sesuatu yang telah membuat Magdalene menghilang.

Aku tetap menekuni musik seiring berakhirnya waktu. Lagipula aku lebih dulu menekuni musik daripada Magdalene. Aku sadar aku memang egois. Aku memang telah kehilangan Magdalene karena kecintaanku pada musik. Tapi, bukan berarti aku akan meninggalkan musik. Musik is my life.

Aku tidak akan kehilangan musik karena aku bisa menghadirkan dan menghilangkan musik sesuai dengan keinginanku. Tidak seperti cinta yang sesaat bisa kuhadirkan dan sulit untuk mengembalikannya lagi padaku.

Oleh Junita Torro Datu’ for My First Love “Andreanz”